Ketika Iran Tidak Lagi Dipandang Sebelah Mata Salah Hitung Amerika dan Eskalasi yang Tak Terhindarkan

Saya ingin membahas bagaimana Amerika Serikat dan Israel salah membaca Iran sebagai aktor yang lemah, padahal realitasnya Iran telah bertransformasi menjadi kekuatan regional dengan kapasitas militer dan strategi yang matang. Dengan pendekatan studi keamanan dan geopolitik, saya ingin mengurai dinamika konflik, mispersepsi dan implikasinya terhadap eskalasi di Timur Tengah.

POLITICSSECURITYMIDDLE EASTWAR AND PEACESECURITY STUDIES

Chairifansyah

3/23/20264 min read

Ada satu hal yang sering terjadi dalam politik internasional dan anehnya terus berulang, di mana negara besar terlalu percaya diri dan salah membaca lawannya sendiri. Jikakita lihat dinamika antara Amerika Serikat, Israel serta Iran hari ini, saya melihat pola itu kini muncul lagi. Selama ini Iran sering ditempatkan dalam narasi sebagai negara yang terisolasi, ditekan oleh embargo dan pada akhirnya dianggap tidak punya kapasitas untuk memberikan respons serius. Narasi itu bukan hanya berkembang di media, tetapi juga terlihat dari cara memengaruhi pengambilan keputusan di level strategis.

Kini asumsi itu pelan-pelan runtuh. Respons Iran dalam beberapa waktu terakhir bukan lagi sekedar negara yang tidak punya kapasitas, bukan lagi permainan tekanan lewat proxy yang bisa dianggap biasa. Yang kita lihat sekarang adalah respons yang lebih terarah dan juga terukur, lebih berani, dalam beberapa aspek justru tidak sepenuhnya diprediksi oleh Amerika maupun Israel. Di titik ini saya fikir Amerika dan Israel ada kesalahan perhitungan.

Bahkan dalam kondisi saat ini justru memperjelas bahwa Amerika Serikat terlihat mulai berada dalam posisi yang tidak sepenuhnya nyaman dimana tekanan militer terus meningkat serta ancaman terhadap jalur energi global seperti Selat Hormuz belum bisa diselesaikan bahkan respons Iran tetap konsisten keras meskipun sudah digempur. Di Amerika Serikat sendiri mulai muncul kritik bahwa kebijakan Trump terhadap Iran cenderung reaktif dan tidak memiliki strategi yang jelas.

Bahkan ada hal yang lebih menarik lagi, Amerika ternyata tidak mendapatkan dukungan dari sekutunya sendiri. Trump secara terbuka bahkan menyebut NATO “cowards” karena tidak mau terlibat langsung membuka Selat Hormuz dan ikut dalam operasi militer. Jerman, Prancis, hingga Inggris memilih berhati-hati dan sebagian besar hanya bersedia terlibat jika konflik mereda atau berada dalam kerangka multilateral dan bukan ikut dalam eskalasi yang sedang berlangsung. Ini menunjukkansesuatu yang jarang terjadi dalam konflik besar dimana Amerika tidak hanya menghadapi lawan yang ternyata lebih siap dari perkiraan tetapi juga menghadapi keterbatasan dukungan dari aliansinya sendiri.

Saya mencoba mengingat kembali teori teori lama dalam studi keamanan yang pernah saya pelajari bahwa kesalahan seperti ini bukan hal baru. Robert Jervis menjelaskan dalm bukunya bagaimana negara sering bertindak berdasarkan persepsi yang keliru terhadap lawannya dan bukan berdasarkan realitas yang sebenarnya.[1] Ketika sebuah negara merasa lawannya lebih lemah dari kondisi riil maka keputusan yang diambil cenderung lebih agresif, di situlah eskalasi mulai sulit dikendalikan.

Iran hari ini bukanlah Iran dua atau tiga dekade lalu, tetapi sebuah negara yang puluhan tahun hidup di bawah sanksi justru memaksa mereka beradaptasi. Mereka tidak punya “peralatan”untuk bergantung pada sistem global seperti negara lain, dan dengan terpaksa pilihan yang tersisa hanyalah membangun kemandirian. Dari situ kita bisa melihat bagaimana Iran mengembangkan kemampuan militernya secara tidak konvensional mulai dari rudal balistik hingga drone yang teknologinya justru relatif murah bahkan jika dibandingkan dengan rudal-rudal konvensional yang saat ini masih diproduksi. Belum lagi peran iran dalam memperkuat jaringan pengaruhnya di kawasan melalui berbagai aktor non-negara.

Kalau kita gunakan pendekatan Offensive Realism ala John Mearsheimer, Iran ini sebenarnya sangat rasional.[2] Dalam sistem internasional yang anarkis dimana negara tidak bisa bergantung pada siapa pun untuk menjamin keamanannya. Satu-satunya cara untuk bertahan hanyalah dengan meningkatkan kekuatan dan Iran berhasil melakukan itu bukan sekedar omong kosong, tapi dalam konteks tekanan yang terus-menerus dari luar.

Dalam perspektif Balance of Power ini adalah cara klasik bagi aktor yang secara konvensional lebih lemah untuk menyeimbangkan kekuatan lawannya.[3] dan ketika Iran terlihat sangat mampu merespons dengan keras, sebenarnya itu bukan sesuatu yang muncul dalam semalam tetapi hasil dari strategi jangka panjang yang selama ini mungkin diremehkan. Di sisi lain bahwa isu nuklir selalu dijadikan alasan utama untuk membenarkan tekanan terhadap Iran. Tapi kalau kita lihat laporan-laporan dari IAEA bahwa tidak ada konfirmasi definitif bahwa Iran telah mengoperasikan senjata nuklir.[4] Isu ini berada di ruang abu-abu yang cukup untuk menciptakan kekhawatiran, tapi tidak cukup kuat untuk menjadi bukti final.

Saya melihat ada suatu hal yang lain yang sering tidak dibicarakan secara terbuka dimana konflik seperti ini bukan hanya soal keamanan tetapi juga soal kepentingan ekonomi. Ketika tensi meningkat kita juga melihat peningkatan penjualan senjata oleh Amerika Serikat, serta meningkatnya kebutuhan energi dari sekutu-sekutunya yang pada akhirnya menguntungkan ekspor gas mereka. Dalam kajian political economy of war, ini bukan hal yang mengejutkan. Robert Gilpin sudah lama menjelaskan bahwa perang dan konflik sering kali berjalan seiring dengan kepentingan ekonomi tertentu.[5] Artinya, ada insentif untuk mempertahankan ketegangan, selama itu masih bisa dikendalikan. Yang menarik adalah bagaimana narasi konflik ini sering dibungkus dengan istilah besar seperti “peradaban” atau bahkan dikaitkan dengan identitas tertentu. Menurut saya, hal ini justru aneh, karena ketika konflik dibingkai sebagai benturan peradaban, ruang untuk kompromi menjadi semakin sempit.

Padahal kalau kita lihat ke dalam level analisis yang lebih realistis, ini bukan soal peradaban. Ini soal kepentingan, soal pengaruh dan soal siapa yang mengontrol kawasan, sumber daya dan arah politik regional. Dalam hubungan internasional negara tidak bergerak berdasarkan moral absolut tetapi berdasarkan kalkulasi kepentingan. Dan ketika semua pihak merasa kepentingannya terancam, maka eskalasi menjadi hampir tak terhindarkan.

Saat ini perang Amerika dan Israel melawan Iran membuat situasi di mana setiap langkah balasan berpotensi memicu respons berikutnya. Sebuah siklus dalam teori konflik sering disebut sebagai escalation trap. Ketika satu pihak merasa perlu membalas untuk menjaga kredibilitasnya maka pihak lain akan melihat itu sebagai ancaman yang harus dijawab. Siklus ini terus berulang dan semakin lama semakin sulit dihentikan.

Menurut saya yang paling menarik bukan hanya kekuatan Iran itu sendiri tetapi bagaimana dunia terutama Barat gagal membaca perubahan Iran sejak awal. Mereka masih melihat Iran dengan kacamata lama, sementara realitasnya sudah berubah. Iran hari ini bukan negara yang bisa ditekan dengan cara yang sama seperti dulu. Mereka sudah belajar, beradaptasi dan telah membangun kapasitasnya sendiri. Kini Iran lebih mandiri, lebih siap dan yang paling penting lebih percaya diri dalam merespons tekanan. Dalam politik internasional kesalahan membaca lawan sering kali lebih berbahaya dari pada kekuatan lawan itu sendiri.

Footnote
[1] Jervis, Robert. Perception and Misperception in International Politics. Princeton University Press, 1976.
[2] Mearsheimer, John J. The Tragedy of Great Power Politics. W.W. Norton, 2001.
[3] Waltz, Kenneth N. Theory of International Politics. McGraw-Hill, 1979.
[4] International Atomic Energy Agency (IAEA), Reports on Iran Nuclear Program (2015–2023).
[5] Gilpin, Robert. War and Change in World Politics. Cambridge University Press, 1981.

Other Post...

Konsumsi Tanpa Henti, Ketika Tren Mengalahkan Kebutuhan