"Mohon Izin” Bahasa Sopan yang Diam-Diam Mematikan Demokrasi
Maraknya penggunaan frasa “mohon izin” di ruang publik dan sipil yang keliatannya sopan tetapi sesungguhnya menyimpan logika feodalisme. Saya coba mengajak kamu mempertanyakan kebiasaan sehari-hari yang tanpa kita sadari justru menjauhkan kita dari etika demokrasi dan relasi yang setara.
PHILOSOPHYHUMANITYSOCIAL
Chairifansyah
12/18/20252 min read


Kalian sadar ga sih, ada satu kalimat yang bikin merasa tidak nyaman bahkan saya anggap jijik setiap kali mendengarnya, “mohon izin berbicara.” “mohon izin Bapak Ibu.” Kalimat ini mungkin terdengar sopan dan santun, tetapi justru di situlah masalahnya. Di balik kesantunannya ada cara berpikir yang pelan-pelan menjatuhkan martabat manusia dewasa di ruang publik.
Awalnya, ungkapan ini saya dengar di lingkungan militer dan kepolisian dan ini saya anggap wajar karena mereka memiliki sistem komando. Tujuannya efisiensi dan kejelasan tanggung jawab, bukan pemujaan pribadi. Masalhnya kalimat ini telah masuk ke ruang kekuasaan formal seperti parlemen atau birokrasi, dan lebih gawatnya bahkan di sekolah, orang tua “mohon izin bertanya” kepada guru. Di kantor staf “mohon izin menyampaikan” laporan kepada atasan. Di ormas dan komunitas sipil, anggota “mohon izin berbicara” seolah olah hak berbicara itu bukan sesuatu yang melekat pada dirinya. Bahayanya kita mulai menormalisasi bahasa tunduk di ruang yang seharusnya setara.
Ketika saya kritik, banyak yang buru-buru membela "ah ini kan cuma soal sopan santun". Masalahnya bahasa tidak pernah cuma soal sopan, bahasa itu selalu membawa relasi kuasa. Saya kasih contoh ya, misalnya seseorang berkata “mohon izin menyampaikan” sebelum menyampaikan pendapat di forum profesional atau sipil, ini seperti terdengar sederhana tapi keras, seperti saya di bawah, anda di atas dan saya hanya boleh bicara jika anda berkenan. Kacau kan? ini bukan cuma soal etika demokratis tapi feodalisme yang disamarkan sebagai kesantunan, jijik banget!
Hari ini feodalisme itu bukan lagi memakai gelar bangsawan ataupun tahta tetapi ada dalam kebiasaan, dalam intonasi, dalam kalimat yang kita anggap wajar. Dulu kita selalu diajari bahwa merendahkan diri itu sopan dan berbicara setara itu kurang ajar, bahwa kritik harus selalu didahului permohonan dan yang mengerikan semua ini dilakukan secara sukarela.
Waktu kuliah dulu saya membaca teks-teks teori politik dan filsafat tapi saya lupa persis di buku yang mana. Ada satu gagasan itu menempel kuat sampai sekarang yaitu kekuasaan yang paling efektif adalah kekuasaan yang tidak terasa sebagai penindasan. Feodalisme modern tidak melarang kita bicara justru membuat kita merasa tidak pantas bicara tanpa izin. Feodalisme sekarang tidak membungkam secara kasar tapi melatih kita untuk membungkam diri sendiri dengan bahasa yang rapi.
Frasa “mohon izin” menjadikan ruang-ruang diskusi terlihat tertib, tapi sebenarnya kosong. Orang jadi takut jujur dan kritik berubah jadi basa-basi. Loyalitas mengalahkan akal sehat, dampaknya keputusan-keputusan buruk lolos karena semua orang terlalu sibuk menjaga sopan santun.
Demokrasi itu tidak menuntut kita untuk kasar tetapi juga tidak meminta kita untuk merendahkan diri. Orang dewasa yang setara bisa berbicara kapanpun tanpa harus memohon hak dasarnya sendiri. misalnya menggunakan kalimat seperti “Saya ingin menyampaikan pendapat.” “Saya menanggapi poin sebelumnya.” “Saya tidak sepakat.” kalimat ini kan tidak merusak tatanan apa pun kecuali tatanan yang memang bergantung pada ketundukan simbolik.
Kita selalu mengira demokrasi cuma urusan pemilu dan konstitusi. Padahal demokrasi hidup atau mati justru di hal-hal kecil yang kita anggap sepele seperti cara kita berbicara, cara kita berbeda pendapat ataupun cara kita menolak hierarki yang tidak perlu. Jika ruang sipil saja kita masih harus “mohon izin” untuk berbicara, jangan kaget kalau kekuasaan tumbuh tinggi tanpa koreksi. Ingat teman!, feodalisme itu tidak selalu datang dari istana atau rezim otoriter, kadangkala tumbuh dari kebiasaan sehari-hari, dari kalimat-kalimat sopan yang tidak pernah kita pertanyakan.

