Vox Populi, Vox Dei vs Perspektif Islam, Ketika Rakyat Melahirkan Pemimpin Zalim
Saya coba membahas dari perspektif islam yang menjelaskan bahwa pemimpin zalim bukanlah kebetulan melainkan cerminan dari rakyat yang zalim. dimana dalam islam kezaliman pemimpin lahir dari kondisi masyarakatnya. Saya juga mengkritik terhadap feodalisme, akal sehat yang tumpul dan juga budaya korup yang masih mengikat rakyat hingga kini.
POLITICSPHILOSOPHYAL QURAN AND AS SUNAHSOCIAL


Dalam sejarah, kita sangat mudah menjumpai pemimpin yang zalim, yang menindas dan yang menyalahgunakan kekuasaan. Apakah mereka lahir begitu saja? atau ini hanya semata-mata kesalahan orang yang duduk di atas kekuasaan?
Perspektif Islam punya jawabannya, Al-Qur’an sudah menjelaskan melalui ayat: “Dan demikianlah kami jadikan sebagian orang-orang yang zalim sebagai pemimpin bagi sebagian yang lain, disebabkan apa yang mereka usahakan.” (QS Al-An‘âm 129) bisa diartikan bahwa, pemimpin zalim bukan hanya masalah individu tetapi cerminan dari masyarakat yang juga berbuat zalim.
Hadis nabi Muhammad juga mengatakan, siapa pun yang diberi amanah memimpin lalu dia zalim kepada rakyatnya, maka Allah haramkan surga baginya. Ini peringatan keras, kita sadar bahwa kualitas pemimpin tidak lepas dari kualitas rakyatnya itu sendiri.
Kalau rakyatnya sering terbiasa dengan kebohongan, ketidakadilan dan zalim maka bisa dipastikan akan melahirkan pemimpin di masyarakat yang sama wataknya dengan rakyatnya.
Kita masih hidup dalam feodalisme, dimana budaya mengkultuskan pemimpin seperti raja, atau selalu tunduk buta tanpa kritik dan selalu ketergantungan pada “tuan” atau “atasan” yang membuat ruang berpikir jernih jadi sempit.
Banyak masyarakat yang rela menerima ketidakadilan selama kebutuhan sesaatnya terpenuhi dan pola pikir feodal ini yang justru memberi ruang bagi pemimpin untuk semakin otoriter.
Suara rakyat bisa dibeli dengan uang, sembako atau janji-janji kosong. Padahal satu suara bisa menentukan arah bangsa untuk kedepannya.
Ironisnya, praktik korup ternyata tidak hanya milik pejabat tapi rakyat kecil pun kerap melakukannya dalam kehidupan sehari-hari seperti menyuap untuk kemudahan urusan, melanggar aturan lalu lintas atau menghindari kewajiban pajak. Semua ini bentuk kezaliman kecil yang jika dibiarkan justru melanggengkan kezaliman seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya.
Ada adagium latin yang sering saya kutip ditulisan saya, vox populi, vox dei suara rakyat adalah suara tuhan.
Kedengarannya keren, tetapi bahaya jika dimaknai secara serampangan.
Analoginya adalah, suara rakyat hanya bisa mencerminkan kehendak Ilahi bila rakyat itu jernih hati dan pikirannya.
Kalau rakyat masih korup, masih feodal, masih buta arah, maka suara mereka bukanlah suara tuhan melainkan kezaliman itu sendiri. Islam menempatkan standar tinggi dimana suara rakyat harus berdaswrkan pada keadilan, moral dan takwa bukan sekadar mayoritas.
Tidak ada pemimpin zalim yang muncul begitu saja, ia tumbuh dari rakyat yang membiarkan dirinya terjebak dalam kebodohan dan kezaliman.
Selagi kita masih hidup dalam feodalisme dan kehilangan akal sehat serta terbiasa dengan tindakan korup, maka jangan salahkan bila allah mendatangkan pemimpin yang sama buruknya.
Perubahan tidak bisa dituntut pada penguasa, karena lahir dari kesadaran kita sebagai rakyat. kita harus putus feodalisme, menolak kebiasaan zalim sekecil apa pun dan juga berani berpikir dengan jernih.
Suara rakyat memang bisa jadi suara tuhan tapi hanya bila suara itu lahir dari hati yang bersih dan pikiran yang sehat. Kalau tidak suara rakyat hanyalah cermin dari kezaliman kita sendiri dan pemimpin yang lahir darinya tidak akan jauh berbeda.


