Tan Malaka Tidak Kembali. Kita yang Akhirnya Menemukannya

Tan Malaka tidak pernah benar-benar kembali, justru kitalah yang akhirnya menemukannya. Dari tokoh yang dulu dianggap berbahaya dan disingkirkan dari ingatan publik, kini justru kembali dibaca anak muda. Mengapa hari ini pemikirannya semakin relevan? Dan apa yang membuat sosoknya justru menarik ketika kepercayaan terhadap kekuasaan dan narasi resmi semakin dipertanyakan?

POLITICSPHILOSOPHYREFLECTIONSOCIAL

Chairifansyah

8/25/20266 min read

Ibrahim Datuk Sutan Malaka, atau biasa dikenal dengan nama Tan Malaka. Saya mengenal Tan Malaka nyaris 20 tahun lalu sejak lulus SMA dan mulai duduk di bangku kuliah Fakultas Sosial dan Politik. Buku dan literatur tentang Tan Malaka sebenarnya sangat jarang dijumpai pada saat itu, karena memang buku-bukunya sempat dilarang oleh Orde Baru.

Tan Malaka sendiri meninggal lebih dari tujuh puluh tahun lalu, ditembak oleh tentara Republik yang sedang mempertahankan negara yang ia perjuangkan. Sekarang justru ia kembali muncul di antara anak-anak muda Indonesia. TikTok, YouTube, podcast, buku, diskusi kampus, sampai pada komunitas-komunitas anak muda namanya kerap muncul. Buku-bukunya seperti Madilog, Massa Actie, Naar de Republiek Indonesia, sampai Dari Penjara ke Penjara banyak dicari saat ini.

Bahkan pada Februari 2026 Mojok menulis tentang bagaimana Tan Malaka seperti “hidup lagi”, ketika karya-karyanya mulai kembali digemari anak muda. (1)

Pertanyaannya yang kemudian muncul bukan lagi siapa Tan Malaka? Pertanyaannya justru, kenapa sekarang? Kenapa seorang tokoh yang selama puluhan tahun hilang dari ingatan publik tiba-tiba terasa relevan bagi generasi yang bahkan tidak pernah hidup di zaman revolusi?

Kenapa sebegitu populernya Tan Malaka? Bukankah kita sudah punya Soekarno? Bukankah Soekarno jauh lebih populer, mudah dikenali, di buku sejarah, monumen, nama jalan, gedung, sampai berbagai atribut negara wajahnya ada?

Saya kira jawabannya justru bukan karena Tan Malaka tiba-tiba menjadi relevan. Tan Malaka tidak kembali. Justru kitalah yang akhirnya menemukannya.

Saya justru mengenal Tan Malaka bukanlah dirinya sebagai manusia biasa, tetapi ada label yang disematkan olehnya. Komunis, Marxis, Radikal, Pemberontak, Tokoh kiri. Sejarah Indonesia modern pernah melewati trauma politik yang begitu besar, terutama setelah 1965 dimana label-label itu punya konsekuensi yang tidak kecil.

Masalahnya, Tan Malaka memang seorang Marxis/Komunis.

Ia pernah menjadi bagian dari gerakan komunis Indonesia dan pernah memimpin PKI pada masa Hindia Belanda. Ia bahkan sangat dekat dengan gerakan komunis internasional dan Komintern. (2) Ketika kita menghapus fakta itu, hanya demi membuat Tan Malaka terlihat seperti nasionalis yang “bersih” juga sama tidak jujurnya.

Justru yang menarik adalah, Tan Malaka sendiri seorang nasionalis yang keras, di mana ia pernah memimpin PKI, namun kemudian justru berkonflik dengan PKI, ia juga memperjuangkan revolusi, namun tidak selalu sepakat dengan orang-orang yang mengaku paling revolusioner, lalu pernah juga mendukung kemerdekaan Indonesia, tapi kemudian berkonfrontasi dengan pemerintah Republik yang baru lahir. Sikap keras ini yang membuat saya makin penasaran dan terus membaca buku-bukunya pada saat itu.

Tan Malaka sendiri di akhir hidupnya berada dalam posisi yang sangat berseberangan dengan Soekarno-Hatta dan kekuatan Republik. Pada 1946 ia ditangkap dan ditahan tanpa proses pengadilan selama lebih dari dua tahun. (3) Setelah dibebaskan, ia membangun gerakan politiknya melalui Partai Murba.

Hingga pada, 21 Februari 1949, ia dieksekusi oleh satuan lokal TNI di Selopanggung. Ironisnya, orang yang sebagian hidupnya digunakan untuk memperjuangkan Republik justru mati di tangan kekuatan dari Republik itu sendiri.

Jadi, kalau kita ingin memahami Tan Malaka, kita jangan hanya melihatnya sebagai poster, karena di balik poster wajah itu ada hal yang jauh lebih rumit.

Lalu kenapa seorang Pahlawan Nasional bisa dilupakan? Di sini sejarah Tan Malaka semakin ironis. Pada 28 Maret 1963, Presiden Soekarno menetapkan Tan Malaka sebagai Pahlawan Nasional melalui Keppres No. 53 Tahun 1963. (4)

Bayangkan!

Seorang tokoh yang hari ini masih dianggap sebagai “komunis” dan “berbahaya” justru pernah diakui sebagai pahlawan nasional oleh Soekarno. Hingga datanglah Orde Baru. Dan di sinilah ingatan tentang Tan Malaka berubah.

Banyak penelitian mengenai historiografi Tan Malaka justru menunjukkan bahwa pada masa Orde Baru, namanya disingkirkan dari buku-buku sejarah karena rezim saat itu sangat anti-komunis dan memandang tokoh-tokoh kiri sebagai bagian dari musuh politik yang harus dijauhkan dari narasi resmi.

Nama Tan Malaka akhirnya menjadi sesuatu yang ganjil, dimana secara hukum ia sebagai Pahlawan Nasional. namun dalam ingatan publik, ia seperti orang yang harus dilupakan.

Di sekolah, bahkan di generasi saya pada masa itu lebih sering mengenal Tan Malaka hanya sebagai bagian kecil dari cerita komunisme Indonesia. Pemikiran dan perjalanan politiknya yang kompleks tidak mendapatkan ruang yang sepadan. Padahal,

Sejarah bukan hanya tentang siapa yang benar-benar ada. Tetapi juga tentang siapa yang diberi kesempatan untuk diingat.

Ketika sebuah negara mempunyai kekuasaan yang sangat besar untuk menentukan apa yang boleh dibicarakan, siapa yang layak dikenang dan siapa yang harus dilupakan, maka hilangnya seseorang dari ingatan publik tidak selalu berarti orang itu tidak penting, namun justru sebaliknya.

Tan Malaka sendiri dalam pemikirannya tidak hanya ingin Indonesia merdeka dari Belanda. Ia juga ingin manusia Indonesia yang merdeka dalam berpikir. Di sinilah Madilog salah satu bukunya menjadi penting. Materialisme, Dialektika, Logika.

Bagi saya, Madilog bukan sekadar buku filsafat yang ditulis seorang tokoh kiri. Ia adalah usaha Tan Malaka untuk membongkar cara berpikir yang menurutnya menghambat manusia Indonesia, sekali lagi saya tulis, menghambat manusia Indonesia! Karena ia ingin manusia belajar berpikir berdasarkan kenyataan, hubungan sebab-akibat dan logika.

Sederhananya: jangan percaya sesuatu hanya karena seseorang yang berkuasa mengatakannya. Dan kalau kita pikir-pikir lagi, gagasan seperti ini sebenarnya sangat mengganggu bagi kekuasaan mana pun.

Karena manusia yang bisa berpikir kritis tidak mudah diperintah hanya dengan mitos, tidak mudah ditakut-takuti hanya dengan label, tidak mudah menerima propaganda hanya karena datang dari negara dan yang paling penting tidak mudah percaya hanya karena sesuatu sudah dilakukan selama puluhan tahun.

Tan Malaka sendiri menjadikan pendidikannya sebagai bagian penting dari perjuangan politiknya, baginya pendidikan bukan hanya aktivitas tambahan, tetapi bagian dari proyek pembebasan nasional untuk membentuk kesadaran rakyat.

Mungkin karena itu saya melihat satu hal, Tan Malaka bukan hanya ingin mengganti penguasa. Ia ingin mengubah manusia yang hidup di bawah kekuasaan itu. Buat saya itu jauh lebih radikal.

Soekarno simbol negara dan Tan Malaka adalah simbol pertanyaan terhadap kekuasaan.

Saya kira sekarang kita bisa paham kenapa Tan Malaka membuat menarik generasi tertentu hari ini. Saya melihat ada perubahan menarik dalam cara sebagian anak muda memilih tokoh sejarah.

Soekarno adalah figur yang sudah sangat melekat dengan negara. Ia proklamator, presiden pertama, pendiri bangsa, simbol nasionalisme. Wajah Soekarno sudah menjadi bagian dari narasi resmi Indonesia.

Tan Malaka berbeda, ia berada di luar, berkonflik dengan banyak pihak, tidak nyaman dengan kompromi, pernah berseberangan dengan kelompok kiri dan pemerintah Republik dan hidup dalam pelarian.

Generasi yang semakin skeptis terhadap kekuasaan akan membacanya kira-kira, Soekarno memberikan kita gambaran tentang negara yang ingin dibangun dan Tan Malaka memberikan kita pertanyaan tentang negara yang sedang kita bangun.

Mungkin itu sebabnya Tan Malaka terasa lebih dekat bagi sebagian anak muda hari ini, karena ia menawarkan sesuatu yang berbeda. Ibaratnya, Soekarno adalah simbol, maka Tan Malaka adalah gangguan.

Dan dalam politik, gangguan kadang jauh lebih menarik daripada simbol dan mungkin itu sebabnya Tan malaka terasa begitu dekat hari ini.

Coba kita lihat pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari Tan Malaka.

Bagaimana kalau kemerdekaan politik tidak otomatis menghasilkan kemerdekaan ekonomi?
Bagaimana kalau rakyat secara formal sudah merdeka, tetapi tetap hidup dalam ketimpangan?
Bagaimana kalau pendidikan tidak membuat manusia berpikir lebih bebas?
Bagaimana kalau masyarakat terlalu mudah menerima sesuatu hanya karena dikatakan oleh orang yang memiliki kekuasaan?
Bagaimana kalau nasionalisme hanya berhenti sebagai simbol, sementara persoalan material rakyat tidak berubah?

Pertanyaan-pertanyaan itu ditulisnya hampir satu abad lalu dan anehnya, kita masih memperdebatkannya.

Ia memang tidak memberikan semua jawaban namun justru mengajukan pertanyaan yang belum selesai kita jawab hingga saat ini. Itulah alasan mengapa Madilog kembali menarik, bukan karena anak muda Indonesia tiba-tiba berubah menjadi Marxis atau misalnya seseorang yang membaca Tan Malaka akan menjadi komunis.

Bagi saya membaca seorang pemikir tidak sama dengan menyerahkan kepala kita kepada pemikir tersebut. Justru inilah semangat Tan Malaka seharusnya ditempatkan. Berpikir. Menguji. Membantah. Kemudian mengambil kesimpulan sendiri.

Ada sedikit kekhawatiran dari kebangkitan Tan Malaka tentang popularitasnya hari ini. Tan Malaka sendiri bukanlah manusia tanpa kontradiksi. Ia juga pernah membuat keputusan politik yang kontroversial, bahkan pernah salah membaca situasi.

Ia bukan manusia yang punya jawaban untuk semua persoalan Indonesia. Karena itu, menurut saya, Tan Malaka lebih menarik untuk dibaca, karena kalau kita hanya ingin mencari tokoh yang selalu benar, kita sebenarnya tidak sedang belajar sejarah, tetapi sedang mencari idola.

Tan Malaka tidak membutuhkan itu, justru yang kita butuhkan adalah membaca Tan Malaka sebagai manusia yang berpikir, bertindak, melakukan kesalahan, berkonflik, kalah, dipenjara, dibuang, melarikan diri, kembali, melawan dan akhirnya mati dalam keadaan tragis.

Ironis memang, karena Tan Malaka tidak akan pernah kembali. Ia sudah ada di sana, di dalam Madilog, di dalam Massa Actie. di dalam Naar de Republiek Indonesia. Di dalam catatan sejarah yang sempat disingkirkan. Di dalam buku-buku yang pernah dilarang beredar.

Yang berubah bukan Tan Malaka, justru kitalah yang berubah. Maka dari itu, tidak heran kalau Tan Malaka ditemukan kembali. Bukan karena dia membawa jawaban dari masa lalu, tetapi karena pertanyaan-pertanyaannya ternyata belum selesai kita jawab.

Ingat, jangan pernah berhenti berpikir. Ketika kita berhenti berpikir, kemerdekaan hanya tinggal nama. Satu abad setelah Tan Malaka menulis tentang kemerdekaan, pertanyaan paling pentingnya masih sama, sebenarnya, sudah semerdeka apa kita?

Catatan Kaki:
(1) Ahmad Effendi. 2026. Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi. Diakses pada situs: https://mojok.co/liputan/catatan/tan-malaka-hidup-lagi/
(2) Bernadette Aderi Puspaningrum. 2021. Tan Malaka dan Sepak Terjangnya di Dunia meski Diasingkan Negaranya. Diakses melalui situs: : https://www.kompas.com/global/read/2021/06/03/083000870/tan-malaka-dan-sepak-terjangnya-di-dunia-meski-diasingkan-negaranya?page=all.

(3) Hersri Setiawan. 2014. Tan Malaka, gerakan kiri, dan Revolusi Indonesia. Yayasan Pustaka Obor dan KITLV Jakarta
(4) Arsip Nasional RI. Pada 28 Maret 1963, Presiden Soekarno menetapkan Tan Malaka sebagai Pahlawan Nasional melalui Keppres No. 53 Tahun 1963. diakses melalui situs: https://x.com/ArsipNasionalRI/status/1640685655956103172

Jakarta, Indonesia - chairifansyah@outlook.com
© 2026 All rights reserved - Made with Love & Chicken Noodle

- OPEN FOR FREELANCE COLLABORATIONS