Saya Suka Politik dan Politik itu Penting
Dua puluh tahun setelah belajar fakultas ilmu sosial dan politik, saya kembali bertanya, mengapa kita perlu belajar politik? Bukan untuk menjadi partisan, tetapi untuk memahami kekuasaan, membaca kepentingan, dan agar tidak mudah dibodohi oleh keputusan yang menentukan hidup kita.
POLITICSPHILOSOPHYPERSONAL JOURNEYREFLECTIONSOCIAL


Sekitar dua puluh tahun lalu, saya duduk sebagai mahasiswa fakultas ilm sosial dan politik. Waktu yang cukup panjang untuk membuat seseorang, termasuk saya dalam melihat politik. Dulu saya belajar politik sebagai bagian dari dunia akademik, namun sekarang saya melihatnya sebagai sesuatu yang hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Saya atau kalian mungkin sering dengar orang mengatakan “Saya tidak suka politik.” dan memang politik terlihat melelahkan dimana terjadi perdebatan yang tidak ada habisnya, fanatisme terhadap tokoh, perang opini di media sosial, atau misalnya janji politik yang berulang dan belum lagi pertengkaran antarkelompok yang kadang lebih mengedepankan sentimen daripada mengutamakan argumen.
Bagi saya tidak masalah untuk tidak mau mengikuti berita politik, tidak hafal nama anggota parlemen atau bahkan boleh juga untuk tidak tertarik dengan siapa yang sedang bertarung dalam pemilu, namun yang pasti keputusan politik tetap akan masuk ke dalam kehidupan kita.
Harga kebutuhan pokok naik karena ada politik di belakangnya, pajak berubah, juga ada keputusan politik di belakangnya. Ketika pemerintah menentukan anggaran pendidikan, kesehatan, infrastruktur atau pertahanan, itu juga ada keputusan politik di belakangnya.
Dibuatnya kebijakan pembangunan kawasan hingga saat kita membicarakan kebebasan berbicara, privasi, keamanan, pekerjaan, lingkungan hidup atau kualitas pelayanan publik, kita sebenarnya sedang bersentuhan dengan politik.
Bagi saya, belajar politik adalah belajar memahami kekuasaan.
Dengan belajar politik kita bisa paham siapa yang memiliki kekuasaan untuk mengambil keputusan? lalu kita juga bisa paham bagaimana keputusan itu dibuat? Siapa yang dapat manfaat, siapa yang nanti akan menanggung akibatnya? Siapa yang mempunyai akses untuk memengaruhi kebijakan? Dan yang tidak kalah penting, siapa yang tidak mempunyai suara?
Pertanyaan-pertanyaan ini penting dan butuh pemahaman, bukan hanya sekedar mengikuti.
Ada perbedaan besar antara mengikuti politik dan memahami politik. Mengikuti politik berarti kita tahu apa yang terjadi. Siapa yang menang dan kalah, lalu siapa yang sedang bertengkar atau misalnya siapa yang sedang menjadi trending topic.
Tetapi memahami politik berarti kita mencoba melihat apa yang berada di balik peristiwa tersebut.
Misalnya, ketika seorang pejabat membuat sebuah kebijakan, kita bisa lebih kritis daripada hanya sekadar bertanya apakah kebijakan itu bagus atau buruk, melainkan mengapa kebijakan itu dibuat? apa masalah yang sebenarnya ingin diselesaikan atau siapa yang mendorongnya? kelompok mana yang mungkin memperoleh keuntungan atau yang dirugikan? institusi apa yang terlibat dan apakah ada alternatif kebijakan lain?
Perbedaan cara bertanya ini menurut saya sangat penting. Sebab tanpa kemampuan membaca politik, kita mudah sekali terjebak pada politik sebagai tontonan.
Setiap kebijakan memiliki konsekuensi nyata terhadap kehidupan manusia. Itulah mengapa saya merasa belajar politik seharusnya bukan bertujuan membuat kita semakin fanatik, tetapi justru membuat kita semakin kritis.
Politik dan pertanyaan tentang kekuasaan
Politik pada dasarnya akan tiba pada pertanyaan sederhana dan sangat fundamental, yaitu siapa yang berkuasa dan bagaimana kekuasaan itu digunakan? saya coba jelaskan dengan pendekatan dari berbagai ahli yang pernah saya pelajari dulu saat kuliah.
Aristoteles melihat manusia sebagai zoon politikon, yang artinya, makhluk yang secara alamiah hidup dalam komunitas politik. (1) Bagi saya, gagasan ini masih relevan hingga saat ini, Kita tidak hidup sendirian, tetapi hidup bersama orang lain, di dalam institusi, aturan, hukum, ekonomi dan struktur sosial yang mengatur banyak hal dalam hidup kita.
Hannah Arendt membawa politik ke wilayah yang berbeda. Arendt menjelaskan bahwa politik bukan hanya soal negara atau pemerintah, tetapi juga tentang ruang bersama tempat manusia bertindak dan berbicara sebagai warga.(2)
Dari sini saya melihat pandangan Arendt ini sebenarnya politik berkaitan dengan kemampuan kita untuk hadir dalam kehidupan publik, menyampaikan pendapat, berbeda dengan orang lain dan juga ikut menentukan dunia yang mereka tinggali.
Sementara Machiavelli mengingatkan bahwa melihat politik itu bukan bagaimana seharusnya tetapi bagaimana adanya. Politik selalu berkaitan dengan kekuasaan, kepentingan, konflik, kompromi, dan kemampuan mempertahankan kekuasaan. (3)
Lalu ada juga Marx yang membawa pertanyaan itu lebih jauh lagi, yaitu, bagaimana kekuasaan politik berhubungan dengan struktur ekonomi dan kepentingan kelas?(4)
Di sinilah menariknya belajar politik, di mana kita tidak harus menerima satu teori secara mentah mentah, justru kita di tuntut untuk belajar melihat dunia dari berbagai sudut, kemudian menguji mana yang mampu menjelaskan kenyataan dengan lebih baik.
Itulah fungsi pendidikan politik bagi saya.
Saya belajar politik juga bukan untuk mengalahkan orang lain dalam diskusi, tetapi supaya saya tidak mudah menerima sesuatu hanya karena dikatakan oleh seseorang yang mempunyai kekuasaan.
Kita bisa lihat pemikiran Tan Malaka yaitu dorongannya untuk menggunakan logika dan materialisme sebagai alat untuk membongkar cara berpikir yang tidak kritis. Bukan sekadar menerima sesuatu karena tradisi, otoritas atau kepercayaan yang selama ini dianggap benar.
Dalam konteks politik, semangat semacam itu menurut saya sangat penting.
Politik akan menjadi buruk ketika masyarakat berhenti bertanya tanpa kritis, tanpa memeriksa kebijakannya. Bahkan berpotensi menjadi bahaya ketika ada pikiran “memang sudah seharusnya begitu”, tanpa pernah bertanya siapa yang menentukan bahwa sesuatu itu memang seharusnya begitu.
Ada anggapan bahwa tidak tertarik pada politik adalah bentuk netralitas.
Saya tidak sepenuhnya setuju.
Menurut saya, ketidaktertarikan terhadap politik tidak lantas membuat kita berada di luar politik. Kita hidup dalam sistem politik yang sama, tunduk pada hukum yang sama, membayar pajak, menggunakan fasilitas publik, mengikuti aturan pemerintah dan menerima konsekuensi dari keputusan yang dibuat oleh orang lain.
Artinya, keputusan untuk tidak memahami politik sebenarnya tidak menghilangkan pengaruh politik terhadap hidup kita.
Justru sebaliknya.
Ketika kita tidak memahami bagaimana kekuasaan bekerja, kita menjadi lebih mudah menerima keputusan orang lain sebagai sesuatu yang alamiah.
Masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang memungkinkan perbedaan pendapat, tetapi masyarakatnya memiliki kemampuan untuk berdebat berdasarkan alasan, bukti, dan argumen bukan sekadar loyalitas kepada kelompok.
Karena itu saya yakin bahwa dengan belajar politik sebenarnya adalah bagian dari belajar menjadi manusia yang lebih sadar terhadap dunia di sekitarnya.
Kita belajar politik bukan agar selalu benar, melainkan agar tahu mengapa kita percaya sesuatu.
Dan kalau suatu hari nanti kita menemukan bahwa argumen kita salah, kita juga memiliki keberanian untuk mengubah pikiran, dan itu jauh lebih penting daripada sekadar memenangkan debat.
Suka atau tidak suka, kita semua hidup dalam politik, maka pertanyaannya bukan lagi apakah kita mau berpolitik atau tidak.
Pertanyaannya adalah,
apakah kita mau memahami permainan kekuasaan yang ikut menentukan kehidupan kita atau kita rela menjadi objek dari keputusan orang lain tanpa pernah memahami bagaimana keputusan itu dibuat?
Saya justru semakin yakin bahwa belajar politik bukan membuat kita semakin politis. Belajar politik membuat kita semakin sulit dibodohi.
Catatan Kaki:
(1) Aristotle. 1998. Politics, Book I, 1253a2–3. Lihat juga C. D. C. Reeve (trans.), Politics, Hackett Publishing.
(2) Hannah Arendt. 1958. The Human Condition, University of Chicago Press
(3) Niccolò Machiavelli. 1513. The Prince
(4) Karl Marx. 1859. A Contribution to the Critique of Political Economy


