Runtuhnya Mantra "Win-Win Solution" dan Kembalinya Egoisme Global

Hari ini, setiap negara kembali pada insting dasarnya self-help. Saya ingin membedah fenomena 'The End of Win-Win Solution' dan bagaimana persaingan ekonomi global kini berubah menjadi zero-sum game yang penuh intrik kekuasaan.

POLITICSSECURITY STUDIESECONOMYSOCIAL

Chairifansyah

4/11/20262 min read

Ketika melihat dinamika politik internasional hari ini, selama ini kita selalu disuguhkan oleh satu istilah bernama "Win-Win Solution". Narasinya selalu sama yaitu lewat globalisasi dan perdagangan bebas, dimana semuanya meyakini bahwa negara bisa makmur bersama. Padahal realitas di lapangan, mantra itu sudah kehilangan tajinya.

Dunia yang kita tempati sekarang bukan lagi dunia yang sibuk saling bekerjasama antar negara, tetapi dunia yang penuh curiga, di mana setiap negara sibuk memastikan keuntungannya tidak diambil negara lain, bahkan jika harus menjatuhkan negara tetangganya sendiri. Sekarang, era solusi saling menguntungkan telah berakhir dan kini memasuki era ekonomi yang sangat nasionalistik sekaligus transaksional.

Dulu, kalau beli barang murah adalah murni urusan pasar, tetapi sekarang setiap transaksi dilihat sebagai sebuah ancaman. Membeli teknologi dari negara tertentu akan dianggap membuka pintu penyadapan dan ketergantungan pada sumber daya negara lain dipandang sebagai kelemahan strategis.

Kalau kita baca dalam studi keamanan, saya mengingat pada apa yang pernah dijelaskan oleh Henry Farrell dan Abraham Newman sebagai Weaponized Interdependence. (1) Dimana negara-negara besar kini menggunakan jaringan ekonomi yang dulu dianggap sebagai alat pemersatu namun justru menjadi senjata untuk menekan lawan politiknya.

Kalau kita menggunakan pendekatan realisme klasik ala Hans Morgenthau, yang terjadi saat ini sebenarnya adalah bentuk murni dari pengejaran kekuasaan (struggle for power). (2) Namun bedanya power tidak lagi hanya diukur dari jumlah hulu ledak nuklir atau personel militer, tetapi dari kontrol atas chip semi konduktor, mineral kritis dan rantai pasok global.

Kalau kita bicara dalam sistem internasional yang anarkis, negara akan kembali pada insting dasarnya, yaitu self-help. Logika Zero-Sum Game kembali menjadi yang utama bahwa keuntungan ekonomi negara lain kini dianggap sebagai ancaman bagi posisi relatif kita dalam struktur kekuasaan global. (3) Dan tidak akan ada lagi istilah "maju bersama" yang ada hanya kalkulasi tentang siapa yang lebih kuat bertahan di tengah tekanan sanksi dan tarif.

Dengan kondisi yang seperti ini pada akhirnya akan mengubah wajah diplomasi kita menjadi transaksional. Kita akan melihat hubungan antarnegara akan lebih mirip dengan tawar-menawar di pasar gelap daripada aliansi yang didasarkan pada nilai-nilai ideal atau moralitas. "Saya dukung kebijakan Anda, asalkan Anda memberi saya akses investasi eksklusif." Semuanya memiliki label harga dan tidak ada lagi ruang untuk bantuan yang benar-benar tanpa pamrih.

Bagi saya ini merupakan titik balik yang berbahaya ketika kerja sama internasional hanya dilihat sebagai transaksi jangka pendek, karena nantinya akan berpengaruh terhadap komitmen jangka panjang terhadap isu-isu kemanusiaan atau perubahan iklim akan sering kali dikorbankan demi kepentingan domestik yang sempit.

Politik luar negeri "Bebas Aktif" menjadi tantangan yang besar. Kita harus bisa menavigasi dunia yang sudah tidak lagi percaya pada solusi saling menguntungkan ini. Kita harus melihatnya dengan sangat pragmatis tanpa kehilangan integritas.

Pada akhirnya kita harus menyadari bahwa dalam politik internasional negara tidak bergerak atas janji-janji manis tentang kemakmuran bersama, tetapi berdasarkan kalkulasi kepentingan yang dingin. Dalam era yang transaksional ini, kesalahan dalam menghitung langkah bisa berakibat pada ketertinggalan yang sulit untuk dikejar kembali.

Footnote:

(1) Farrell, Henry, and Abraham L. Newman. Of Privacy and Power: The Transatlantic Struggle over Freedom and Security. Princeton University Press, 2019.
(2) Morgenthau, Hans J. Politics Among Nations: The Struggle for Power and Peace. Alfred A. Knopf, 1948.
(3) Gilpin, Robert. Global Political Economy: Understanding the International Economic Order. Princeton University Press, 2001.

Jakarta, Indonesia - chairifansyah@outlook.com
© 2026 All rights reserved - Made with Love & Chicken Noodle

- OPEN FOR FREELANCE COLLABORATIONS