Mengapa Soekarno Mengubah Marxisme Menjadi Marhaenisme?
Saya ingin mengulas alasan mengapa Soekarno tidak mengadopsi Marxisme secara utuh dan justru merumuskan Marhaenisme sebagai ideologi yang berakar pada realitas sosial Indonesia. Saya membandingkan pemikiran Karl Marx dan Bung Karno, agar memahami bahwa Marhaenisme bukan sekadar "Marxisme versi Indonesia", tetapi sebuah gagasan yang lahir dari kondisi masyarakat kolonial dan perjuangan rakyat kecil. Tulisan ini menjadi pembuka dari seri yang membedah pemikiran Bung Karno secara kritis dan kontekstual.
POLITICSPHILOSOPHYSOCIAL


Saya dulu mengira bahwa Marhaenisme adalah Marxisme yang diberi nama Indonesia, tetapi semakin saya banyak membaca literatur dan tulisan Bung Karno, justru saya melihat Soekarno bukan sedang menerjemahkan Karl Marx ke dalam bahasa Indonesia tetapi justru ia sedang menerjemahkan realitas Indonesia ke dalam sebuah teori perjuangan.
Karena banyak orang menganggap Marhaenisme hanyalah Marxisme yang diganti istilahnya dan terdengar masuk akal memang karena memang Bung Karno sendiri tidak pernah menyembunyikan kekagumannya kepada Karl Marx. Ia banyak membaca buku Marx, Engels, Lenin, hingga berbagai pemikir sosial Eropa sejak usia muda. Bahkan banyak pidatonya yang mengakui bahwa Marxisme telah memberinya cara berpikir untuk memahami bagaimana kapitalisme bekerja.
Namun saya berfikir, jika memang Bung Karno seorang Marxis, mengapa justru ia tidak menyebut dirinya seorang Marxis? dan kenapa ia malah memperkenalkan istilah baru bernama Marhaenisme? Menurut saya, jawabannya sangat sederhana dan mendasar yaitu karena Indonesia bukan Eropa. Marx sendiri menulis teorinya berdasarkan kondisi di Eropa pada abad ke-19. Di saat Revolusi Industri sedang berlangsung dimana banyak jutaan petani kehilangan tanahnya dan menjadi buruh pabrik dan mereka tidak lagi memiliki alat produksi, tanah, mesin, bahkan modal. Satu-satunya yang mereka miliki hanyalah tenaga yang dijual kepada pemilik pabrik. Marx menyebut kelompok ini dengan istilah proletariat.
Kaum proletariat menghasilkan nilai namun keuntungannya dinikmati oleh pemilik modal, di mana semakin besar keuntungan kapitalis maka semakin besar pula eksploitasi terhadap buruh. Di sinilah kritik Marx terhadap kapitalisme lahir dan analisis ini sangat relevan untuk Eropa yang telah mengalami industrialisasi.
Berbeda dengan Indonesia yang dilihat Bung Karno pada tahun 1920an dimana mayoritas rakyat bukan buruh pabrik, mereka adalah petani kecil, nelayan, pedagang pasar, pengrajin dan adapula tukang. Mereka memang miskin tetapi mereka bukan seperti proletariat seperti yang digambarkan Marx.
Istilah Marhaen lahir ketika Bung Karno masih menjadi mahasiswa di Bandung dimana ia bertemu seorang petani kecil. Ia pun sering menceritakan kembali pertemuan tersebut disetiap pidatonya. Bung Karno bertanya, “Tanah ini milik siapa?” Petani itu menjawab, “Milik saya.” Cangkulnya milik sendiri. Sawahnya milik sendiri. Alat-alat pertaniannya juga milik sendiri. Ketika Bung Karno bertanya namanya, maka petani itu menjawab, “Marhaen.” Nama itulah yang kemudian dipakai Bung Karno untuk menamai teori perjuangannya. Dalam pidato tahun 1965, Bung Karno sendiri menegaskan bahwa istilah Marhaen berasal dari nama petani yang ditemuinya di Jawa Barat.(1)
Kita bisa melihat perbedaan yang besar antara Marxisme dan Marhaenisme. Bagi Marx, kemiskinan terjadi karena kaum buruh tidak memiliki alat produksi. Berbeda bagi Bung Karno, rakyat Indonesia justru memiliki alat produksi, tetapi ukurannya terlalu kecil untuk membebaskan mereka dari kemiskinan. Petani memiliki sawah tetapi hanya beberapa petak, nelayan memiliki perahu tetapi sangat sederhana, pedagang memiliki gerobak tetapi tidak memiliki akses terhadap modal. Mereka bukannya tidak memiliki alat produksi, namun memiliki alat produksi tetapi tetap hidup dalam struktur ekonomi kolonial yang tidak pernah membuat mereka sejahtera.
Atas dasar Inilah menurut saya Marhaenisme bukan penolakan terhadap Marxisme, melainkan koreksi berdasarkan realitas Indonesia. Bung Karno juga tidak membuang analisis Marx mengenai kapitalisme dan justru sebaliknya, ia kritik terhadap eksploitasi tetapi menolak menerapkan teori Barat. Ia memahami bahwa teori hanya berguna apabila mampu menjelaskan masyarakat yang sedang dihadapi yaitu kolonialisme yang pada saat itu Indonesia belum menjadi negara industri seperti Inggris atau Jerman. Pada era Kolonial, perekonomian Indonesia didominasi oleh pertanian, perkebunan dan juga perdagangan hasil bumi yang diarahkan untuk kepentingan kolonial. Sehingga musuh utamanya bukan hanya kapitalisme, tetapi juga imperialisme dan kolonialisme. Maka Marhaenisme lahir sebagai ideologi perjuangan nasional sekaligus perjuangan sosial.
Ada satu hal yang menurut saya sering disalahpahami, dimana banyak orang mengatakan Marhaenisme hanyalah “Marxisme yang di Indonesia kan”. Saya memahami mengapa ungkapan itu muncul, karena Bung Karno sendiri pernah menyebut Marhaenisme sebagai penerapan Marxisme sesuai kondisi Indonesia. Namun, jika berhenti sampai di situ justru kita kehilangan inti persoalannya. Yang dilakukan Bung Karno itu bukan sekadar mengganti istilah “proletariat” menjadi “Marhaen”. Ia juga mengubah titik berangkat analisisnya, dimulai dari masyarakat industri menuju masyarakat kolonial, dari buruh pabrik menuju petani kecil, nelayan, pedagang kecil, pengrajin, dan seluruh rakyat yang memiliki alat produksi sederhana tetapi tetap hidup dalam kemiskinan. Bung Karno mengubah subjek utama perjuangan politik di Indonesia. (2)
Di sinilah kecerdasan dan ketajaman Bung Karno sebagai seorang pemikir bisa dilihat. Ia tidak memperlakukan teori sebagai kitab suci, namun ia justru memperlakukan teori sebagai alat untuk membaca kenyataan. Di mana pada saat itu kenyataan Indonesia justru berbeda dengan Eropa, maka teori pun harus disesuaikan. Cara berpikir yang seperti ini jauh lebih dekat dengan tradisi ilmiah daripada sekadar menghafal doktrin. Pertanyaan yang muncul adalah, apakah Marhaen sudah tidak ada lagi hari ini? pertanyaan ini justru menarik bagi saya, karena hari ini kita masih bisa melihat jutaan petani dengan lahan sempit, nelayan tradisional, pedagang kaki lima, pelaku UMKM, bahkan pengemudi transportasi daring yang secara formal memiliki sepeda motor, tetapi penghasilannya sangat bergantung pada platform digital, algoritma dan struktur pasar yang malah mereka sendiri tidak bisa kendalikan.
Apakah mereka benar-benar telah merdeka secara ekonomi?
Ataukah mereka hanyalah wajah baru dari Marhaen yang hidup di abad ke-21?
Pertanyaan ini buat saya masih jauh lebih penting dari pada sekadar memperdebatkan apakah Bung Karno seorang Marxis atau bukan. Marhaenisme sendiri bukan lahir dari ruang kuliah, bukan juga dari perpustakaan. Marhaenisme justru lahir dari keberanian seorang pemuda untuk meninggalkan buku sejenak menyusuri sawah, berbincang dengan rakyat kecil, lalu menyadari bahwa teori terbesar sekalipun harus tunduk kepada kenyataan. Di situlah pelajaran terbesar yang diwariskan Bung Karno kepada kita, jangan pernah memaksakan kenyataan agar sesuai dengan teori. Bangunlah teori yang lahir dari kenyataan.
Saya Ingin membahas tentang ide Marhaenisme ke dalam beberapa bagian di blog ini. Tulisan selanjutkan saya coba menjelaskan Marhaenisme vs Kapitalisme Platform, dengan pertanyaan apakah ekonomi digital melahirkan Marhaen baru? lalu bagian selanjutnya saya coba jelaskan mengapa Soekarno tidak mengajak Revolusi buruh seperti Karl Marx. Tunggu ya….
Footnote:
Padma Cahyaningtyas, Djono, Tri Yuniyanto. 2020. Ideologi Marhaenisme Masa Pemerintahan Soekarno. Jurnal Candi Vol 20/No.2/XI. Diakses melalui website : https://jurnal.uns.ac.id/candi/article/download/44790/28325?
Vhiasyah Raeinady & Jagad Aditya Dewantara. 2021. Pemikiran Soekarno Dalam Ajaran Marhaenisme. Jurnal Kewarganegaraan Vol.5 No.2. Diakses melalui website : https://journal.upy.ac.id/index.php/pkn/article/download/2293/pdf/5638


