Desember selalu punya cara sendiri untuk membuat saya merasa pulang

Bagi saya Desember bukan sekadar akhir tahun tapi jeda untuk bernapas, pulang ke keluarga dan bercermin ke diri sendiri. Di tengah hujan yang romantis saya bisa memiliki waktu bersama anak-anak dan refleksi diri menjelang bertambahnya usia di Januari Desember menjadi ruang tenang untuk merapikan hidup sebelum melangkah lagi.

SOCIALREFLECTIONFAMILY & TIMEPERSONAL JOURNEY

Chairifansyah

12/25/20252 min read

text
text

Setiap kali kalender mendekati akhir tahun kalian merasakan hal yang sama ngga? udara terasa sedikit lebih ramah, hujan turun lebih sering, langit jadi kelabu lebih lama dan ritme hidup pelan-pelan terasa melambat. Sebagian orang mengganggap mungkin ini cuma soal cuaca. Tapi buat saya Desember itu perasaan. Saya selalu merasa Desember bukan sekadar bulan penutup tetapi jeda nafas panjang setelah satu tahun berlari. Jujur saja ini satu-satunya waktu di mana saya benar-benar “berhenti”. Saya selalu menghabiskan cuti dari pekerjaan saya di bulan ini dan saya tidak menyesal sedikit pun. Bekerja keras itu penting, tapi tahu kapan harus berhenti jauh lebih penting.

Yang paling saya tunggu dari Desember sebenarnya sederhana yaitu waktu. Waktu yang biasanya mahal dan langka tetapi tiba-tiba terasa cukup. Saya bisa bercengkrama dengan ketiga anak saya, duduk tanpa terburu-buru, mendengarkan cerita mereka yang kadang loncat ke mana-mana dan juga tertawa untuk hal-hal kecil yang mungkin di bulan lain akan terlewat begitu saja.

Kalau dibulan lain saya sering merasa bersalah, bukan karena saya tidak peduli tetapi karena hidup sering memaksa kita memilih antara pekerjaan, tanggung jawab, target, deadline. Semua terasa sah dan rasional sebagai kepala keluarga. Tapi Desember selalu mengingatkan saya bahwa hidup bukan cuma tentang menjadi produktif tetapi hidup juga tentang hadir.

Desember juga jadi waktu refleksi buat saya, mungkin karena Januari selalu berarti satu hal yang tidak bisa dihentikan usia saya bertambah. Saya bertanya ke diri sendiri tanpa basa-basi, selama hidup, sudah sejauh apa saya berjalan? apa yang berubah? apa yang masih saya kejar dan apa yang seharusnya saya lepaskan. Refleksi di Desember bukan soal menyesali tetapi lebih ke merapikan, menata ulang pikiran, prioritas dan harapan. Saya selalu menerima bahwa tidak semua rencana harus tercapai dalam satu tahun dan tidak semua kegagalan adalah akhir dari cerita.

Desember tidak selalu sempurna, ada lelah yang menumpuk, ada kecewa yang belum sepenuhnya sembuh, justru di situlah spesialnya. Desember juga tidak menjanjikan hidup yang ideal hanya menawarkan ruang untuk berdamai serta pengingat bahwa hidup tidak harus selalu cepat, bahwa berhenti sejenak bukan tanda kalah. Keluarga, waktu serta ketenangan batin bukan bonus tetapi inti. Ketika nanti Januari datang membawa usia baru dengan segala hiruk-pikuknya, setidaknya saya tahu satu hal bahwa saya sempat berhenti, saya sempat refleksi, saya sempat pulang dan saya siap melangkah lagi dengan versi diri yang sedikit lebih jujur dari tahun sebelumnya.