Apakah Indonesia Sedang Mengarah ke Fasisme?
Isu tentang demokrasi dan otoritarianisme kembali mengemuka di tengah perkembangan politik Indonesia belakangan ini. Banyak pihak mulai bertanya tanya, apakah Indonesia saat ini sedang mengarah ke fasisme? Apakah kita masih hidup dalam negara demokratis, ataukah secara perlahan sistem ini sedang dikooptasi oleh kekuatan yang lebih otoriter?
POLITICSSOCIAL
Ada pertanyaan yang ingin saya ajukan, apakah kita ini masih hidup di negara demokratis atau justru jangan-jangan kita sedang menuju sesuatu yang jauh lebih berbahaya, yaitu fasisme? kedengerannya berlebihan ya, tapi saya merasakannya dan ini bukan cuma ada di kepala saya sendiri.
Bivitri Susanti yang juga seorang pakar hukum tata negara menyebut hal yang sama dalam sebuah podcast Bocor Alus Tempo. Akhirnya saya semakin gelisah dan mulai melihat ke sekitar dengan lebih jeli dan mulai memperhatikan tanda-tanda itu, apakah sudah mulai terlihat?
Apa itu fasisme? sederhananya, fasisme adalah sistem politik yang sangat otoriter. Sistem ini menolak demokrasi, menekan perbedaan pendapat, lalu memusatkan kekuasaannya hanya pada segelintir orang dan biasanya dibungkus rapi dengan jargon nasionalisme yang berlebihan ditambah makin banyaknya simbol-simbol kekuatan yang menakutkan.
Saya tidak mengatakan Indonesia sudah menjadi negara fasis. Namun saya melihat pola yang mengkhawatirkan, dimana seorang pemimpin diposisikan sebagai sosok yang nyaris tak boleh dipertanyakan, media juga sibuk membangun citra daripada menguji kebijakan, lalu kritik juga dianggap sebagai kebencian daripada bagian dari demokrasi, saatnya kita perlu lebih waspada. Demokrasi hanya hidup jika warga berani mengkritik kekuasaan. Jika kritik dianggap ancaman, yang sedang melemah bukan oposisi, melainkan demokrasi.
Kini kita bisa lihat bagaimana banyak lembaga demokrasi yang seharusnya jadi penyeimbang kekuasaan justru malah terlihat melemah. Misalnya dulu kita selalu membanggakan KPK atau Mahkamah Konstitusi yang seharusnya netral, lalu DPR yang seharusnya mewakili rakyat, kini semua itu tampak kehilangan tajinya.
Keputusan-keputusan penting justru sering terasa hanya demi mempertahankan status quo. Saya kecewa! Sebagai warga negara saya benar-benar kecewa! Bukan cuma karena keputusan-keputusan itu merugikan tetapi karena mereka merusak kepercayaan publik yang susah payah dibangun.
Yang lebih menyedihkan lagi banyak teman saya yang mulai takut menulis opini di media sosial, alasannya takut kena pasal karet dan takut dilaporkan, takut dipolisikan. Bagi saya kritik mulai dianggap ancaman justru ketika kita nggak lagi bisa berbicara jujur tanpa rasa takut. Kita harus tahu bahwa demokrasi bisa mati bukan hanya lewat kudeta atau senjata tetapi juga lewat ketakutan yang dibentuk perlahan.
Kehadiran militer di ranah sipil juga harus dipertanyakan. Saya nggak anti militer, saya tahu peran mereka penting dalam menjaga kedaulatan. Masalahnya adalah mereka masuk terlalu dalam ke jabatan sipil, ke dalam proyek-proyek strategis, bahkan ke pengambilan keputusan sehari-hari, dan yang menjadi pertanyaan, apakah ini masih demokrasi sipil seperti yang kita harapkan dulu?
Kini kita juga bisa merasakan sulitnya membedakan mana informasi yang murni dan mana yang sudah disetting. Banyak buzzer yang memframing dan memanipulasi sebuah isu di media sosial yang dibungkus agar kita percaya pada narasi yang mereka pilih untuk kita.
Buruk memang, tapi kita belum terlambat! Demokrasi masih bisa diselamatkan tapi tidak dengan diam namun harus bersikap kritis. Kita harus terus tetap aktif, terlibat dan terus belajar dan yang paling penting kita harus memahami politik, sejarah dan kekuasaan agar kita tidak mudah ditipu.
Kita harus tetap bersuara kritis dan cerdas, jangan biarkan rasa takut membuat kita diam. Peran media yang independen juga harus kita jaga karena mereka adalah salah satu tembok terakhir demokrasi kita. Karena tanpa pers yang jujur dan berani, kita akan hidup dalam dunia yang hanya memperdengarkan satu versi kebenaran.
Pemimpin sejati bukanlah orang yang emosi saat di kritik, seseorang yang tidak bisa dikritik dan tidak bisa ditanyai keputusannya maka dia bukan pemimpin dalam sistem demokrasi, dia hanyalah simbol dari kekuasaan yang ingin dipuja, bukan diawasi.
Setelah era Orde Baru tumbang, demokrasi menjadi hak kita karena diperjuangkan dengan darah, keringat dan air mata , maka sudah seharusnya menjaganya agar tidak hilang di tengah kekuasaan dan manipulasi.
Sekali lagi, saya menulis ini bukan karena benci pada negeri ini, tetapi justru karena saya cinta Indonesia dan saya ingin negeri ini tetap menjadi tempat di mana semua orang bisa bicara, berpikir dan bermimpi tanpa takut.
Saya mau mengajak kamu merasakan hal yang sama, jangan diam! Suara kita, cara kita, tujuan kita mungkin terdengar kecil tetapi kalau ini semua dilakukan secara kolektif dan bersama dalam bersuara, percayalah, gema itu bisa sampai ke istana dan bisa menggetarkannya.




